
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Thursday, February 1, 2018
Saturday, April 1, 2017

Keturunan Sultan Aceh Jelaskan Posisi Kerajaan Barus
BANDA ACEH | Sekitar tahun 5.000 SM, masyarakat Barus masih banyak yang menyembah berhala. Mereka juga aktif menjual getah kapur barus kepada bangsa-bangsa Arab penyembah berhala. Bahan ini selain digunakan sebagai pengawet mayat juga digunakan sebagai bahan baku campuran wewangian istana para raja bangsa Arab.
Thursday, March 30, 2017

Kisah Abu Yazid Al Bustami dalam Manuskrip Aceh
Ini merupakan Sebuah karya yang amat langka dalam koleksi baru kami "PEDIR Museum" 1 Ra'jab 1438 daripada Hijrah Nabi yang pilihan.

Mengingat Kembali Tragedi Berdarah Simpang KKA, Sudah 18 Tahun Belum Tersentuh HAM
Tragedi
Simpang KKA, juga dikenal dengan nama Insiden Dewantara atau Tragedi
Krueng Geukueh, adalah sebuah peristiwa yang berlangsung saat konflik Aceh
pada tanggal 3 Mei 1999 di
Kecamatan Dewantara, Aceh.
Saat itu, pasukan militer Indonesia menembaki kerumunan warga yang sedang
berunjuk rasa memprotes insiden penganiayaan warga yang terjadi pada tanggal 30
April di Cot
Murong, Lhokseumawe.
BEM Se-Aceh Tak Terima Barus Jadi Titik Nol Islam Nusantara
BANDA ACEH | Sejumlah presiden kampus dalam hal ini "Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang berada di Banda Aceh dan Aceh besar menolak Barus dijadikan Titik Nol Islam Nusantara. Mereka mengadakan pertemuan khusus di salah satu cafe di Banda Aceh, Selasa (28/3/2017)
Tuesday, March 28, 2017
Ultimatum Perang Aceh - Belanda Harus Dibayar Mahal
Oleh Yusra Habib Abdul Gani | OPINI
PROKLAMASI perang kolonial Belanda pada 26 Maret 1873 ke atas Aceh, merupakan klimaks dari luapan emosi yang tidak terkendali, ditindih pula oleh logika ‘keniscayaan’ yang percaya bahwa jika Aceh berhasil dicaplok, niscaya sempurnalah sudah prestasi kolonial Belanda di wilayah Nederlands East Indie, karena Acehlah satu-satunya negeri terletak paling ujung Sumatera yang belum berhasil ditaklukkan oleh Belanda.
Sunday, March 26, 2017
Sekilas Sejarah Kesultanan Samudera Pasai (Pasee)
SAMUDERA PASAI atau PASEE merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, sekitar Kota Lhokseumawe , Aceh Utara Provinsi Aceh, Indonesia saat ini. Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Meurah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267.
Friday, March 24, 2017
Sultan 'Alauddin 'Inayat Syah, Sang Penakluk Kafir Musyrikin
'Inayat Syah atau biasa disebut Sultan 'Alauddin Ri'ayat Syah Al-Kahhar
Baiturrijal Kandang XII, kampung Baru kota Banda Aceh.
Baiturrijal Kandang XII, kampung Baru kota Banda Aceh.
Darah itu masih di Nadi
Wednesday, March 22, 2017

"Peng Cring" Jenis Mata Uang Aceh Abad 19 Masehi
Jenis mata uang "Peng Cring"
Masyarakat Aceh menyebutnya dengan " Peng Cring". Mata uang ini adalah jenis mata uang yang diterbitkan oleh Inggris pada abad 19 Masehi.
Monday, March 20, 2017

Akhir Maret, Jokowi akan Resmikan Barus Sebagai Pusat Peradaban Islam di Nusantara
JAKARTA | Rais Syuriah PWNU Jatim, Miftahul Akhyar, meminta Presiden Joko Widodo
(Jokowi) untuk menjadikan daerah Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sebagai
pusat peradaban Islam. Barus, kata dia, merupakan titik 0 dan awal mula Islam
berkembang di Nusantara.
Wednesday, March 15, 2017

Kumpulan Catatan Rentetan Kudeta Berdarah di Kerajaan Aceh Darussalam
SEPENINGGAL Sultan Alaidin Riayat Syah, kondisi politik di Kerajaan Aceh Darussalam berjalan tidak stabil. Sengketa kekuasaan untuk menduduki tahta terjadi, bahkan cenderung berakhir dengan kudeta berdarah.
Tuesday, March 14, 2017
Keturunan Sultan Aceh Masih Ada, Lantas Pimpinan Wali Nanggroe Kenapa Mereka yang Berkuasa?
Sejumlah keturunan raja di berbagai wilayah di Aceh mulai menujukkan jati diri mereka. Sembilan garis keturunan raja Aceh berkumpul di aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk membicarakan eksistensi keturunan raja dalam membangun Aceh di masa depan.
Saturday, March 11, 2017

Heboh, di Gampong Pande Ditemukan Makam Tokoh Bangsawan Keturunan Arab dari Kabilah Kinanah
Wanita di Gampong Pande, Banda Aceh
Sejak ratusan tahun yang silam, wanita itu telah dikebumikan di tempat yang hari ini dikenal dengan Gampong Pande, di Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Keterangan tentang kehadirannya dalam lembaran sejarah Aceh Darussalam, yang ditemukan di lahan rawa-rawa bakau Gampong Pande, merupakan penggalan kecil dari sebuah riwayat panjang negeri ini yang masih dalam ruang minus cahaya.
Monday, January 9, 2017

Barus, Pusat Peradaban Islam Tertua di Nusantara
MAKAM-MAKAM TUA DI BARUS, TAPANULI TENGAH
Kota Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kabupaten Singkil, Aceh. Barus dapat dicapai dengan menggunakan pesawat udara dari Medan ke Sibolga selama 30 menit dan dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Sibolga selama 2 jam lagi menuju Barus. Atau bisa juga melalui perjalanan darat dengan minibus travel dari kota Medan, ke Barus selama 9 jam.
Kota Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kabupaten Singkil, Aceh. Barus dapat dicapai dengan menggunakan pesawat udara dari Medan ke Sibolga selama 30 menit dan dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Sibolga selama 2 jam lagi menuju Barus. Atau bisa juga melalui perjalanan darat dengan minibus travel dari kota Medan, ke Barus selama 9 jam.
Friday, January 6, 2017

Jika Ditanyai Orang: "Pantaskah Orang Aceh Benci Orang Jawa?" (baca ulasannya disni!)
"Salah Paham Terhadap Aceh"
Kenapa harus Aceh?
Oleh Sarah Mantovani, SHTulisan ini tak bermaksud untuk membuka kembali luka lama Aceh tetapi hanya untuk meluruskan sejarah yang ada.
Kenapa harus Aceh?

Kilas Balik Perjuangan Bangsa Aceh Sepanjang Masa
Oleh Husaini Hasan*
MASYARAKAT Aceh dikenal sebagai satu bangsa yang suka berperang sebagai pejuang (the warrior) di ujung Pulau Sumatera, yang mengawal pintu gerbang Selat Melaka, sebagai pintu gerbang masuk dari Timur Tengah (Middle East) ke Timur Jauh, Laut Cina Selatan (South China Sea), dan Pacific-Asia. Penjajah Belanda menyebut, “Orang Aceh pergi ke medan perang seperti pergi ke pesta perkawinan.”
MASYARAKAT Aceh dikenal sebagai satu bangsa yang suka berperang sebagai pejuang (the warrior) di ujung Pulau Sumatera, yang mengawal pintu gerbang Selat Melaka, sebagai pintu gerbang masuk dari Timur Tengah (Middle East) ke Timur Jauh, Laut Cina Selatan (South China Sea), dan Pacific-Asia. Penjajah Belanda menyebut, “Orang Aceh pergi ke medan perang seperti pergi ke pesta perkawinan.”
Sunday, January 1, 2017

Video Dokumentasi Peninggalan Sejarah Perang Belanda di Aceh
VIDEO Menelusuri Peninggalan Sejarah Perang Aceh
Sebuah video dokumentasi sederhana yang menampilkan perjalanan seorang warga Aceh dari Swedia ke Belanda beserta narasi diberi judul "Menelusuri Peninggalan Sejarah Perang Aceh" beredar di media sosial melalui sebuah kanal Youtube.
Sebuah video dokumentasi sederhana yang menampilkan perjalanan seorang warga Aceh dari Swedia ke Belanda beserta narasi diberi judul "Menelusuri Peninggalan Sejarah Perang Aceh" beredar di media sosial melalui sebuah kanal Youtube.
Tuesday, December 13, 2016

Abdul Wahhâb al-Âsyî; Pelopor Sastra Hijaz Modern Asal Aceh
"Reputasi Abdul Wahhâb Âsyî sebagai pelopor dunia jurnalistik di Hijâz pun kian meningkat. Ia juga terkenal sebagai salah satu pelopor dunia susastra Hijâz modern. Selain banyak menuliskan pemikirannya, Abdul Wahhâb Âsyî juga banyak menuliskan karya dan kritik sastranya. Ia pun mendirikan al-Nâdî al-Adabî al-Su’ûdî (Persatuan Sastra Arab Saudi)."
|
Tuesday, November 8, 2016

8 November 1999, REFERENDUM Sebagai Bukti Rakyat Aceh Ingin Pisah dari NKRI
November adalah bulan yang bersejarah bagi Rakyat Aceh, Memori seakan diputar pada 17 tahun lalu. Kenangan akan rakyat Aceh pada Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU-MPR) Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, 8 November 1999. Kala itu, semua elemen masyarakat bersatu tekad mengakhiri konflik Aceh secara bermartabat. Salah satu isu yang mencuat adalah referendum. Saat itu, di keude kupi, terdengar sayup-sayup pekikan “merdeka” atau “referendum”.
Ini Alasannya, Kenapa Aceh Tak Jadi Merdeka?
Oleh Taufik Al Mubarak
Sejak sebelas (red) tahun silam, setelah RI dan GAM teken MoU Helsinki, Finlandia (15/08/05), Aceh tak boleh lagi bicara merdeka atau referendum. Bukti keseriusan GAM tak lagi meminta merdeka, di antaranya mereka sudah menerima konstitusi NKRI, memotong senjata, membentuk Partai Lokal sebagai senjata perjuangan politik, dan terakhir menjadi pejabat Indonesia di Aceh: ada yang jadi Gubernur, Bupati dan Walikota. Itulah pengorbanan terbesar gerakan yang sejak 4 Desember 1976 berperang melawan Indonesia demi menuntut kejelasan status Aceh sebagai sebuah negara merdeka.
Sejak sebelas (red) tahun silam, setelah RI dan GAM teken MoU Helsinki, Finlandia (15/08/05), Aceh tak boleh lagi bicara merdeka atau referendum. Bukti keseriusan GAM tak lagi meminta merdeka, di antaranya mereka sudah menerima konstitusi NKRI, memotong senjata, membentuk Partai Lokal sebagai senjata perjuangan politik, dan terakhir menjadi pejabat Indonesia di Aceh: ada yang jadi Gubernur, Bupati dan Walikota. Itulah pengorbanan terbesar gerakan yang sejak 4 Desember 1976 berperang melawan Indonesia demi menuntut kejelasan status Aceh sebagai sebuah negara merdeka.
Subscribe to:
Posts (Atom)