Tuesday, January 23, 2018

Menelusuri Jejak Hidup Abu Daud di Teupin Gajah (Tgk. H.M.Daud Al Yusufy) Ulama Kharismatik Aceh



Silsilah Keturunan

Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy, dalam beberapa surat formal, tulisan “Muhammad” sering disingkat dengan “ Muhd”, sebutan yang akrab untuk pimpinan Dayah Madintud Diniyah Babussa’adah ini, baik dalam hubungan keluarga, atau para santri dan juga dalam lingkungan social beliau dipanggil dengan panggilan ABU, Pada Tahun 1936 beliau dilahirkan didesa Krueng Kalee, Kecamatan Pasie Raja
( waktu itu adalah kecamatan Kluet utara) Kabupaten Aceh Selatan, beliau adalah anak yang ke-7 dari pasangan suami-istri Nyak Gafi bin ismail dengan Aisyah benti  Abu Kali, Nyak Gafi adalah keturunan yang ke-1 dari Ismail bin H. Yusuf, yang dikenal dengan tokoh pejuang yang syahid dalam memberikan perlawanan kepada Belanda pada tahun + 1870.
Abu Daud di Teupin Gajah (Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy

Masa Kecil Hingga Pendidikan Dayah

ABU, memyelesaikan pendidikan formal Sekolah Rakyat (SR), pada Tahun 1951 sejarah singkat kegigihannya dalam menuntut ilmu, dari beberapa sumber diperoleh informasi, beliau harus berjalan kaki melewati jalan lumpur (jalan rusak) setiap hari lebih kurang 10 (sepuluh) kilometer pulang pergi untuk melanjutkan pendidikan pendidikan SR kelas 4 s/d 6 didesa Ladang Tuha Terbangan. Pada tanggal 3 Oktober 1954 atas dasar permintaan sendiri dan petunjuk Guru dikampung, beliau melanjutkan pendidikan Agama ke Dayah Bustanuddin, Kuala Bak’ U dibawah pimpinan Yang Mulia Tgk. Syech. Djailani Musa. Kemudian pada Tahun 1957 Dayah/Pesantren tersebut dipindahkan ke Kota Fajar yang diberi nama dengan Dayah Darussa’adah dan beliau pun ikut pindah kesana.

Masa muda Abu
Pada bulan Agustus 1964 Abuya Syech H. Djailani Musa diundang ke Aceh Utara dan beliau pun ( Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy) ikut serta dalam rombongan tersebut, kemudian setelah tiba di Dayah/Pesantren Madinatud Diniyah Babussalam ( dayah abu Tumin) Blang Bladeh kabupaten Bireuen (sebelumnya masuk ke kabupaten Aceh Utara), Tgk. H. Muhammad Daud Alyusufy dititiplah (ditinggalkan) oleh Abuya Syech H. Djailani Musa pada Yang Mulia Abu. H. Muhammad Amin Mahmud untuk melanjutkan pelajarannya disana (dibawah pimpinan Abu Muhammad Amin Mahmud - Abu Tumin), pada tahun 1957 Dayah tersebut hingga sekarang masih tetap dibawah pimpinan Tgk. H. Muhammad Amin Mahmud, Abu Tumin adalah pimpinan kedua untuk dayah tersebut setelah meninggal ayahanda beliau Tgk. Syech Mahmud.


Diumur Senja Abu Masih Aktif Menjalankan Majlis Taklim dan Suluk

Semasa hidupnya Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy, dikenal sosok yang penuh dengan semangat, beliau terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan agama dan social, hingga beliau wafat pada 13 Januari 2018 lalu. Dalam kesibukan yang lumayan padat, beliau aktif menjalankan 3 (tiga) majlis ta’lim dalamsatu minggu ditiga tempat, yaitu hari Jum’at, didayah Bustunul Huda Rasian Pasie Raja, hari Sabtu dimusalla Dayah Babussa’adah dan hari Minggu didayah Bustanussa’adah desa Silolo, bahkan ada majlis bulanan di di Aceh Tenggara. Dari jejak dan sumber yang diperoleh di umur senja beliau ada 23 majlis taklim yang Abu jalankan diseluruh Aceh dan khususnya dalam kabupaten Aceh Selatan, Masyaallah...semoga Allah memberikan surga yang mulia kepada Abu. 


Beliau juga membuka dan memimpin Suluk dan Tawajuh di dayah yang beliau pimpin, para jama’ah Suluk dan Tawajoh ini sudah banyak bahkan ratusan jama’ah, momentum ini dapat kita lihat waktu bulan puasa. Anggota jama’ah ini dari dalam Aceh Selatan, maupun seluruh Aceh pada umumnya.

Abu sedang berzikir
Sedangkan dalam pemerintahan, pada tahun 2001 beliau dipercayai untuk memimpin Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) kabupaten Aceh Selatan, karena dinilai sukses dalam kepemimpinannya, pada priode ke-2 tahun 2007 beliau terpilih untuk memimpin kembali tetap sebagai jabatan ketua.


Abu Merupakan Ulama Kharismatik Aceh

Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy atau lebih akrab disapa dengan panggilan Abu atau Abu Daud di  Teupin Gajah ini merupakan ulama Kharismatik Aceh, khususnya di Aceh Selatan ini merupakan sosok ulama yang sangat akrap dengan siapa saja, ramah dan murah senyum. Abu merupakan ayahanda ulama muda Tgk. Tarmizi Al Yusufy atau lebih akrap disapa Waled Ar Cot Meurak yang sekarang memimpin dayah LPI Najmul Hidayah Al Aziziyah Batee Iliek, Samalanga Bireuen.

Abu merupakan salah satu figur ulama yang sangat Tasawuf dan sangat menghormati para orang berilmu dan orangtua dan Abu juga sangat takzim terhadap para ulama lainnya. Semasa hidupnya Abu akan selalu hadir dirumah hajatan warga, bahkan diusia senja pun jika badan sehat abu akan memenuhi undangan hajatan warga yang mengundang.

Ketika Abu Sakit dan Wafat

Dirawat di Hospital Tung Shin Malaysia
Sebelum akhir hayat Abu sempat sakit dan dirawat beberapa hari di Puskesmas Ladang Tuha Pasie Raja, karena kondisi Abu semakin memprihatikan akhirnya Abu dirujuk ke rumah sakit daerah dr. Yuliddin Away Tapaktuan, dirumah sakit tersebut pun Abu juga tak ada perubahan yang signifikan dan akhirnya anak-anak dan keluarga terdekat berinisiatif membawa Abu ke salah satu rumah sakit di Medan, Sumetera Utara lewat jalur udara bandara T. Cut Ali Teupin Gajah, Pasie Raja. Setelah beberapa hari di rawat di Medan keluarga pun sepakat membawa Abu dirawat di Hospital Tung Shin Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah lebih kurang dua minggu dirawat dirumah sakit tersebut Abu dirujuk ke Hospital KPJ Sentosa Kuala Lumpur, Malaysia dan dirumah sakit ini Abu sudah agak membaik, tapi Allah berkehendak lain tepat di hari Sabtu lalu pukul 02. 03 waktu setempat tepatnya 13 Januari 2018 bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1439 Abu menghembuskan nafas terakhir dengan umur 82 tahun dan sempat masuk keruang ICU. Jenazah Abu sebelum diterbangkan ke Aceh Selatan sempat dimandikan, dikafankan dan ba’da Maghrib waktu setempat jenazah Abu dishalatkan dulu di Masjid Jamek Kg. Baru Kuala Lumpur, Malaysia dan langsung diimami oleh anak kedau beliau Tgk. H. Mukhlis atau akrab disapa dengan Abu Ngoh.

Hari Minggu (14/1/2018) sekira pukul 8.30 WIB rombongan keluarga dan jenazah Abu dipulangkan via bandara Kualanamu Medan dan disambut oleh warga perantauan Aceh DPP Aceh Sepakat dan kerabat dekat. Setelah serah terima jenazah dengan keluarga rombongan keluarga dan jenazah Abu diterbangkan via bandara Teuku Cut Ali Teupin Gajah, Pasie Raja, Aceh Selatan dengan pesawat perintis Susi Air. Tepat pukul 12.00 WIB jenazah Abu sampai di kampung halaman dan dari Bandara sampai kerumah duka jenazah Abu disambut oleh ribuan jama’ah takziyah.

Sekira pukul 15.00 WIB (14/1/2018) jenazah Abu selesai difaldhukifayahkan dan dikebumikan di Balee (balai) pribadi beliau tepat dibelakang rumah dikomplek dayah Babussa’adah. Dari hari pertama hingga hari ketujuh Abu wafat para jama’ah takziyah ratusan hingga ribuan orang melayat dari berbagai daerah di Aceh dan bahkan guru beliau sendiri Abu Tumin Blang Bladeh juga ikut hadir untuk mendoakan Abu. Para warga dan alumni IKABAS juga ikut andil mengerah tenaga dan sumbangan untuk proses kenduri Abu. Masyaallah...

Ribuan Jama'ah Takziyah dirumah duka
Kini Abu telah tiada, pelita alam pun satu persatu dipadamkan oleh Allah subhnahu wata’alaa. Setelah tiada Abu banyak meninggalkan kesan-kesan yang sangat bermamfaat, baik itu ilmu maupun wasiat-wasiat. Sebelum wafat abu berwasiat semua majlis taklim yang telah beliau jalankan jangan sampai berhenti dan harus tetap aktif walau beilau telah tiada. Walau Abu telah tiada, namun Abu meninggalkan para alumin dayah serta anak kandung beliau yang telah menjadi para ulama, diantaranya:
  1. Tgk. Safruddin Al Yusufy , Abu Cek (pimpinan dayah Minhajussalm Subulussalam),
  2. Tgk. H. Mukhlis Al Yusufy, Abu Ngoh(pimpinan dayah putri Nurul Fata Teupin Gajah, Pasie Raja),
  3. Tgk. Tarmizi Al Yusufy, Waled Ar (pimpinan dayah LPI Najmul Hidayah Al- Aziziyah Batee Iliek),
  4. Tgk. Elly Safridha Al Yusufi (Pengurus dayah madinatud diniyah Babussa’adah, Teupin Gajah),
  5. Tgk. Zoel Syahman Amin (Pimpinan TPA di Mersak Kluet Tengah,) menantu Abu.

baca juga:
Tgk H Muhammad Daud Al Yusufi (Abu Dawood di Teupin Gajah), Sosok Ulama Tasawuf di Aceh Selatan

 Sejarah Singkat Dayah Madinatud Diniyah Babussa’adah Teupin Gajah

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Madinatud Diniyah Babussa’adah didirikan pada tahun 1972 M dibawah pimpinan almarhum Abu di Teupin Gajah Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy dalam bentuk TPA dan para santri hanya belajar pada waktu siang (jam 14.00 wib s/d 16.00 wib), kemudian Dayah/Pesantren tersebut bertambah maju dan santripun bertambah banyak, sehingga waktu belajarpun ditambah lagi dari jam 08.00 wib s/d 11.30 wib.
 
Silaturrahmi alumni IKABAS dengan Abu (Agustus 2017)
Dayah ini berlokasi di Gampong Teupin Gajah Kecamatan Pasie Raja (Sebelumnya adalah kecamatan Kluet Utara) Kabupaten Aceh Selatan. Pada tahun 1985  barulah Pimpinan membangun tempat pemondokan santri yang sangat darurat yang dimulai dengan 5 (lima) kamar tempat tinggal santri dan satu balai tempat pengajian (tempat sekarang ini). Kemudian dayah tersebut kian bertambah maju, muridnya pun bertambah banyak dan dari segi pembangunanpun mulai diadakan perubahan dari barak-barak darurat menjadi asrama semi permanen. Pada Tahun 2002 Dayah Babussa’adah dalam hal pengembangan fisik telah meresmikan sebuah bangunan Mushalla Dayah dengan bentuk bangunan yang permanen dan menelan biaya hampir mencapai 2(dua) milyar rupiah.  

Mushalla dayah Babussa'adah
Pada tahun 2001 dengan kesepakatan Abu dan warga sekitar kecamatan Pasie Raja Abu di Teupin Gajah mendirikan asrama putri dayah Madinatud diniyah Babussa’adah (sekarang bernama dayah putri Madinatud Diniyah Nurul Fata) dikelola oleh anak pertama Abu Tgk. Safrudin Al Yusufy atau akrab disapa Abu Cek. Selang beberapa tahun kemudian status pengelolaan asrama putri ini digantikan oleh anak kedua Abu yaitu Tgk. Mukhlis Al Yusufy yang akrab disapa dengan Abu Ngoh, karena pengelola pertama Tgk. Safrudin Al Yusufy ditunjuk oleh badan dayah Aceh untuk memimpin dayah perbatasan Aceh Minhajussalm Subulussalam. 

Dayah wanita Madintud Diniyah Nurul Fata dulunya berlokasi di bekas MTI atau sekolah agama yang tak jauh dari dayah induk Babussa’adah, tapi karena banyaknya santri yang mondok maka lokasi dayah ini dipindahkan ke lokasi lebih luas juga dekat dengan dayah induk asrama putra. Dayah asrama putri ini diresmikan pada bulan Agustus 2017 lalu.

Adapun pencapaian yang telah diperoleh dalam hal pengembangan non fisik, diluar lingkungan dayah, Dayah Babussa’adah telah memberikan konstribusi yang besar dalam hal pengabdian ketengah-tengah lingkungan sosial, pada tahun 1987 para alumni yang berprestasi telah mendirikan sebuah organisasi dengan nama IKABAS (Ikatan Alumni Dayah Babussa’adah), dan prestasi lain yang telah diperoleh, beberapa alumni telah dipercaya untuk memimpin beberapa TPA, dan bahkan telah ada diantara alumni yang telah dipercayai untuk memimpin Dayah. 

Diantaranya, Tgk. Safruddin Al Yusufy (pimpinan dayah Minhajussalm Subulussalam), Tgk. H. Mukhlis Al Yusufy (pimpinan dayah putri Nurul Fata Teupin Gajah, Pasie Raja), Tgk. Tarmizi Al Yusufy (pimpinan dayah LPI Najmul Hidayah Al- Aziziyah Batee Iliek), Tgk. Elly Safridha Al Yusufy dipercaya mengurus dayah madintud diniyah Babussa’adah (asrama putra), Tgk. Zoel Syahman Amin Pimpinan TPA di Mersak Kluet Tengah, Tgk. Hanafiah pimpinan TPA di Pasie Raja, Tgk. Zoel Azka pimpinan TPA di Kluet Selatan, Tgk. Suhaili pimpinan TPA di Krueng Kalee Pasie Raja. Tgk. M. Amir Pimpinan TPA di Teupin Gajah, Tgk. Khairul Anwar Yaqub pimpinan TPA Raudhatul Muna Teupin Gajah, Tgk. Syarian pimpinan TPA di Malaka Kluet Tengah, Tgk. Usman pimpinan TPA di  kecamatan Sawang, Tgk. Wahidi pimpinan dayah Barat Daya Kluet Selatan, Tgk. Irzaban Pimpinan dayah Raughatul Hjrah Lampeuneureuet, Aceh Besar, Tgk. Jamaludin pimpinan dayah Suak Abdya, Dan masih alumni di daerah daerah lain yang mungkin disebutkan semua yang telah disetujui pimpinan.



Kondisi Sosial Kemasyarakatan Sekitar Dayah

Dayah atau Pondok Pesantren terletak di Gampong Teupin Gajah Kecamatan Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan berbatasan sebelah utara dengan Gampong Sineubok sebelah Selatan dengan Gampong Baroe dan sebelah timur berbatasan dengan gampong Krueng Kalee. Komonitas social yang ada disekitar pondok, masyarakatnya berkembang dalam berbagai kapasitas, petani sebagai komonitas yang dominan di Aceh, juga kita dapati dalam berbagai perkembangan usaha perkebunan didaerah ini, nelayan, pedagang dan sebagainya, juga terdapat berbagai usaha mandiri dan kelompok, serta usaha-usaha lain dalam bentuk perdagangan dan sebagainya. Kondisi keagamaan disekitar ini, masyarakatnya dikenal dengan komonitas yang masih kental dengan nilai-nilai keagamaan, terutama dalam u’budiyah dan juga dalam hal perkembangan kebudayaan dan adat istiadat lainnya.




Model Kepemilikan

Pesantren/ Dayah Madinatud Diniyah Babusa’adah, dibawah pimpinan Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy pada awal pendirian adalah Lembaga swasta dan tanpa badanhukum, dan pada 2007 dirikanlah Yayasan Pesantren/ Dayah Madinadut DiniyahBabussa’adah dengan Nomor Akte Notaries 02, Yayasan tersebut juga dibawah pimpinan Tgk. H. Muhammad Daud Al Yusufy.

Pendidikan Yang Diselengarakan
A.     Pendidikan formal, dayah terdiri dari 3 (tiga) tingatan :

1. Pendidikan Tingkat Ibtidaiyyah (MI)
2. Pendidikan Tingkat Tsanawitah (MTs)
3. Pendidikan Tingkat Aliyah (MA)

B.  Pendidikan Non Formal dayah, adalah pendidikan yang dibuka didalam atau diluar
dayah yang tidak terikat dengan aturan sebagaimana aturan dayah, diantara nya MajlisTa’lim jembatan nibong gampong Ujong Padang Rasian dengan jumlah anggota lebih kurang 500 orang yang diadakan setiap Minggu pada hari Jum’at, dan Majlis Ta’lim uro Sabtu dikomplek Dayah Babussa’adah, yang diadakan pada setiap hari Sabtu dengan jumlah anggota juga lebih kurang 500 orang, dan Majlis Ta’lim dayah Silolo digampong Silolo, diadakan setiap hari Minggu, jumlah anggotanya berkisar 100 orang, ketiga majlis ta’lim ini dipimpin langsung oleh Abu pimpinan, dan Majlis Ta’lim malam Hameh dan malam Jum’at yang diadakan setiap malam Kamis dan malam Jum’at didayah Babussa’adah dengan jumlah anggota lebih kurang 100 orang, ini dipimpin oleh Tgk. H. Muklis Al Yusufy, Ketua Umum Dayah Putri, yang juga sebagai wakil pimpinan.


Santri, Badal dan Ustadz

Didayah Babussa’adah terdapat para santri dalam berbagai tingkatan usia, mulai dari
usia tingkatan SMP sampai tingkatan usia Universitas, di dalam hal pemondokan. Semua
santri dan santriwati adalah meundagang (mondok) kecuali para santri yang berasal dari Desa setempat. Santri ini masuk jam belajar sore dan malam, namun selesai pengajian malam, parasantri ini juga menginap di pondok Pesantren.

Adapun dewan guru (ustz) di Dayah Babussa’adah terdiri guru putra,dan guru putri. Dewan guru Babussa’adah adalah para santri yang telah lulus Aliyah di Dayah ini dan juga ada diantara dewan guru yang sarjana dalam dan luar negeri. Guru-guru yang sudah mengajar adalah atas dasar izin yang telah diberikan oleh Yml Abu (Pimpinan Dayah) bahkan untuk kelengkapan administrasi Abu juga telah mengeluarkan SK dewan guru
Terkaid dengan badal, Alhamdulillah di Dayah Babussa’adah terdapat beberapa guru dinilai sudah berpotensioleh Abu, sehingga jika Abu berhalangan atau keluar daerah, pendidikan tetap lancar dan berjalan seperti biasa. Bahkan untuk saat ini, salah seorang dari wakil Abu sudah ditempatkan untuk memimpin Dayah putri yang terletak sekitar 200m dari Dayah putra.


Model Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren (Dayah)

Model pengembangan ekonomi Dayah, sejauh ini Dayah Babussa’adah sama sekali belum memiliki aset atau sumber yang dapat dijadikan modal usaha untuk tujuan oprasional pengelolaan lembaga ini. Beberapa periode terakir ini pengurus dan Abu telah merencanakan pengadaan ekonomi Dayah berupa pengadaan kebun sawit, namun karena persoalan modal usaha hingga sekarang pogram tersebut belum teralisasi , dan pengurus terus berupaya agar pogram ini dapat segera terwujud, mengingat demi perkembangan dan kemajuan Dayah ke depan.


Program Pengembangan

Program pengembangan saat ini dirancang meliputi fisik dan non fisik Fisik, rehab asrama lama untuk di bangun 2 lantai, pembuatan pagar sekeliling pondok, membangun balai belajar 3 lantai, pengadaan tempat tinggal sementara untuk dewan guru yang telah berkeluarga, ruang pelatihan dan pendidikan untuk berbagai kegiatan santri dan pengadaan sarana olah raga. Non fisik, pogram non fisik beberapa diantara nya sedang dan telah dijalankan, diantaranya pendidikan ceramah, khutbah, tahlilan dan pendidikan sulok dan sejenisnya. Semua ini sedang dijalankan dalam berbagai kesempatan sesuai dengan waktunya. Adapun kegiatan nonfisik lain yang sudah menjadi agenda kami ialah pelatihan-pelatihan dan pendidikan-pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan sosial dan ekonomi mandiri.


Program Unggulan


Program unggulan, dilihat sesuai dengan background kami, bahwa lembaga ini adalah lembaga pendidikan Islam Dayah Salafi Madinatud Diniyah Babussa’adah. Maka keunggulan yang ada ialah berupa program-program pendidikan yang bermutu setara dan sesuai dengan sejumlah Dayah Salafi yang ada di Aceh. Cita-cita dan harapan serta do’a kami, untuk melahirkan generasi Ulama yang berpotensi, berprestasi serta yang paling utama ialah memahami Al Qur’an dan sunnah dan kitab-kitab yang telah diwarisi oleh Ulama, telah membawa kami dalam merancang berbagai sistem untuk pelaksanaan metode belajar dan mengajar, sehinggaakan  dijadikan itu sebagai prioritas dan yang unggul dalam program dayah.


Sumber: Badan Dayah Aceh, Ikatan Santri Dayah Babussa’adah, dan berbagai referensi lainnya


No comments:
Write komentar