Friday, March 11, 2016

Kisah Inong Balee: " Nyanyianku Menjadi Deritaku"

Untuk memulai ceritaku ini, aku perlu mengambil 11 (sebelas) tahun menyiapkan nyali dan mengembalikan keberanianku. Selama ini, aku tak pernah mau menceritakannya kepada siapa saja, termasuk saudaraku. Tapi, entah kenapa aku tersentuh dan merasa percaya kepada mereka yang ada di PENA ini.




 Pasukan Inong Balee era GAM (ilustrasi)

Aku sudah pertimbangkan matang-matang dan selama 1 (satu) tahun lebih, daku memperhatikan posting berita mereka (PENA-red). Dimana, aku anggap sangat membela rakyat kecil, sebab itu ku berani menghubungi salah satu Pengurus PENA. Dan, ada juga yang aku temui langsung di salah satu Gampong di Wilayah Acheh Timur.

PUTROE MUDA

Dengan kebulatan tekadku, maka aku mulai menceritakan apa yang telah aku emban dan kusimpan selama 11 tahun yang lalu. Derita ini, bagaimana luka yang tak pernah sembuhnya, tapi aku tak tahu kepada siapa aku harus berbagi rasa, kepada siapa aku harus meluahkan tangis yang airnya sudah kurasakan melebihi Samudra Pasee.

Hari ini, Jumat 01-11-2013, keberaniku sudah sangat bulat untuk menceritakan semua kisah-kisah yang telah ku alami selama ini. Walaupun dengan terbata-bata dan dengan jemari yang gemetar, aku coba juga menulis setiap pertanyaan yang datang dari Team PENA.

Bagi sebagian orang, mungkin ceritaku ini tidak ada manfaatnya sama sekali, tapi bagiku ini adalah satu kesempatan untuk mengobati lukaku. Walau mungkin tak seberapa, tapi setidaknya telah menolongku untuk mengobati luka yang semakin lama semakin parah dan semakin dalam merambah di Qalbuku.

ACEH UTARA, akhir tahun 1999. Aku suka menyanyi, dan menyanyi adalah salah satu hobby yang sangat aku sukai. Dan ternyata hobbyku ini telah mengantarkanku kegerbang pertemuan dengan pejuang Aceh Merdeka. Dimana, sebelumnya aku sendiripun tidak mengerti apa yang mereka perjuangkan dan apa yang mereka inginkan.

Seorang Penasehat GAM (Gerakan Acheh Merdeka) Wilayah Pasee mendengar aku menyanyi, dan kemudian dia memberi kesempatakan kepadaku untuk menyanyikan lagu Perang Sabi pada sebuah dakwah GAM yang diadakan di Ulee Meuriya Geudong. Setelah itu aku diajak agar bergabung dengan Pasukan Inong Balee.

Disebabkan, kegiatan sekolah yang aku jalani pun dalam kondisi tak menentu, dan juga keadaan di kampong hura hara, maka dengan memberanikan diri, aku meminta izin dari ayah agar mengizinkanku bergabung dengan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM). Dengan renungan yang bangga, dan seperti tak menduga, ayahku menitiskan air mata dan mengatakan setujunya, permintaanku untuk bergabung dengan GAM.

Selama 2 (dua) bulan aku dilatih fisik secara intensif, termasuk menggunakan senjata. Dan, kemudian aku langsung diturunkan lapangan. Sejak saat itu, kehidupanku pun telah berubah, dari gadis gampong menjadi seorang figthter dari Pasukan Inong Balee. Dikarenakan aku seorang gadis luwes dan mudah bergaul, maka Panglima setempat menugaskan aku untuk jadi inteligen. Karena, kalau berperang juga mungkin sudah banyak tentara GAM yang lebih mampu dari aku.

Kefanatikkan aku terhadap GAM semakin membesar dari hari kehari, sehingga walaupun banyak duka yang menimpa diriku, tak perduli asal bisa bersama pasukan GAM, berjuang untuk Memerdekakan Aceh. Sebegitu fanatiknya terhadap GAM maka banyak hal yang aku rasakan dan menjadi pengalaman hidup yang tak pernah terlupakan.

Karena aku ditugaskan di kota, maka bisa leluasa berteman dengan banyak anggota TNI. Mereka sering datang ke rumahku untuk bertamu dan kadang sering aku suguhkan teh atau kopi. Dan, kucoba bertanya tentang pasukan mereka dan kekuatan mereka.

Sebenarnya tugas yang diberikan kepadaku adalah sangat mudah, hanya dengan mendatangi pos-pos TNI dan lihat senjata apa saja yang digunakan, serta melihat berapa personil yang berada di pos tersebut. Setiap kali aku pulang dari pos mereka, aku meminta hadiah atau tanda mata yaitu peluru aktif.

Selama 1 (satu) tahun lamanya aku melaksanakan tugas tersebut dan bisa mengumpulkan kurang lebih 573 butir peluru berbagai jenis. Tapi bak kata pepatah, sepandai pandai tupai melompat, pasti jatuh juga ke tanah. Itulah yang terjadi terhadapku, diakhir tahun 2002, tepatnya saat aku berada di Pos Yonif 141 Sriwijaya Palembang.

Ketika itu aku disuruh TNI untuk melihat salah seorang tawanan yaitu anggota GAM, dan ternyata orang itu tak lain adalah abang sepupuku sendiri. Betapa marahnya TNI itu samaku, dengan kemarahan mereka, maka aku ditendang dan ditampar bertubi. Kemudian aku dimasukkan kedalam sel tahan dan disanalah mereka memperlakukan aku semau mereka.

Kesucian yang telah kusimpan sekian lama, dan sebagai perempuan tentu itulah sebagai marwahku kelak, kalau aku mempunyai suami, tapi dihari itu sirna semuanya. Dikarenakan aku pingsan, jadi tidak tahu entah berapa ramai yang telah merengut keperawanku dan tentunya akupun sudah tak perduli lagi dengan apa yang terjadi.

Ketika aku sadar, ternyata sudah berada disebuah kamar di Puskesmas Blang Teupat. Aku sempat bertanya kepada seorang pekerja disana, tentang siapa yang telah mengantarkanku. Dia dia menjawab bahwa aku telah diantara oleh pasukan TNI.

Setelah aku sembuh, maka dijemput oleh orang suruhan Penasehat GAM Wilayah Pase dan dibawa ke Barak GAM di Wilayah Jungka Gajah. Sesampainya disana aku dilayani apa adanya, karena memang keadaan yang memang harus demikian adanya.

Disela-sela keheningan seorang Panglima berkata sesuatu kepadaku. “Adoe Nyoe Keuh Perjuangan, Gob laén Nyaweung- Nyaweung Hana Lee, Droe Keuh Syukur Manteung Udeep”. Tapi dia kan tidak tahu bagaimana dengan masa depanku, dan akupun tidak mau menceritakan panjang lebar, tentang kejadian di dalam sel tahanan itu.

Aku hanya menitiskan air mata dan berdoa kepada Allah SWT agar aku diberikan ketabahan untuk menghadapi semua apa yang telah terjadi terhadap diriku. Seperti yang Panglima katakana “ini adalah risiko perjuangan”, maka akupun tak menyesali apa yang telah terjadi terhadap diriku.

Selanjutnya aku kuatkan hati dan semangat untuk terus bertahan hidup. Walau bagaimanapun aku bertahan, namun aku tak mampu menipu diriku sendiri, dari hari kehari aku terus dihantui oleh perasaan takut dan trauma. Sehingga membuat aku sangat frustasi dengan keadaan sekelilingku. Maka aku memutuskan dan minta izin untuk hijrah ke Malaysia.

Di Negeri Melayu itulah, aku mencoba untuk bangkit dan berlari mengejar apa yang telah hilang dari diriku selama ini. Disana juga aku menemukan seorang pemuda yang telah menerimaku apa adanya. Dan, kami dikaruniai dua “cahaya mata”, belahan jiwa.

Tapi memang di dunia ini tak ada yang pasti, dan tak ada jaminan untuk memiliki apa yang ada pada kita untuk selamanya. Pada 2010 akupun memutuskan untuk meninggalkan Kota Kuala Lumpur yang penuh dengan duka dan suka. Aku menjejakkan kaki kembali ke Tanoh Endatu yang berstatus Daerah Otonomi Khusus dibawah penjanjian MoU Helsinki.

Sesampainya aku di kampung, masih banyak mata memandang dengan lirikan aneh dan mulut–mulut yang menyuarakan suara sumbang. Pun begitu aku tetap tegar menghadapi kehidupan ini. Tak lama kemudian aku bekerja disebuah Door Smeer. Walaupun aku bekerja sebagai pembasuh motor, tapi aku tak merasa minder, setidak tidaknya aku tak "memakan" harta dan uang rakyat.

Mereka yang mengajak aku dulu bergabung dengan GAM kini telah menjadi Bupati dan ada yang sudah bekerja di DPRK. Mungkin mereka tidak mengenal diriku lagi, tapi aku masih tetap kenal dengan muka mereka sampai kapanpun. Sedih sekali hatiku melihat kehidupan Rakyat Aceh, yang dulu dijanjikan kebahagiaan kepada mereka.

Merekalah yang telah bersusah payah membekali kita waktu berada di hutan, merekalah yang ”theun tapak” (kenak sepak) disaat konvoi TNI datang menyisir gampong-gampong. Aku sendiri tak membutuhkan bantuan dari mereka yang semenjak dahulu bergabung dengan GAM. Karena aku masih kuat untuk berdikari. Tapi apa yang kuharapkan adalah agar mereka jangan lupa dengan rakyat yang sangat susah mencari sesuap nasi.

Kenapa mereka sudah lupa kepada saudara yang membantu mereka dikala mereka susah dahulu, kenapa mereka bisa menelantarkan anak-anak yatim dan janda yang sangat membutuhkan uluran dan bantuan dari mereka yang dulunya mengatas namakan perjuangan untuk rakyat. Kini setelah dapat pangkat dan jabatan, semuanya hilang arah, mereka seperti telah buta dan tuli dengan alam sekeliling mereka.

Kadang aku ingin meludahi dan manampar muka mereka dikala mereka mengumbar janji lagi, ketika ada maunya, tapi aku berpikir lagi, kemarahanku itu takkan mengembalikan kesucianku yang telah diregut oleh ”PERJUANGAN”. 

Akhir kataku, maafkan aku...ibu, ampunkan aku...ayah, mungkin aku telah mengecewakan kata izinmu dulu ketika aku pamit mau berjuang untuk membebaskan Tanah Aceh dan membahagiakan Rakyat Aceh. Ampunkan aku...saudaraku yang seagama dan sebangsa yang ada di Aceh, aku belum bisa membahagiakan kalian.

Apa yang kuharapkan agar kedepan kita lebih cerdas dan lebih tahu lagi siapa yang kita pilih sebagai Pemimpin kita dan Wakil kita. Agar kita tidak dijadikan sapi perah oleh orang-orang yang mengatasnamakan perjuangan untuk mencapai cita-cita mereka.

Terimakasih juga kepada Team PENA yang telah sudi meringankan beban di dada ini, luapan hati ini telah kalian dengarkan. Harapanku semoga PENA bisa mendengar jeritan bathin dari yang lain juga. Karena jeritan seperti ini lebih sakit kalau tak ada yang mau mendengarnya. Salam sukses untuk PENA dan Teamnya. 

Salam
PUTROE MUDA 

Pasukan Inong Balèe

No comments:
Write komentar